Skip to main content

Mentalitas Pecundang Merusak Negara

 "A rotten apple spoils the barrel." 

Kau selalu dengungkan bahwa "Taliban" telah masuk institusi negara ini, tidak terkecuali POLRI. Kau kumandangkan bahwa Taliban ini akan merusak tatanan negara dan mengubahnya ke tatanan yang diinginkan oleh Taliban. Cara merusaknya adalah dimulai dengan membuat satu keonaran ke keonaran lainnya. Keonaran yang tidak ada ujung penyelesaiannya ini lalu akan ditumpangi oleh Taliban dengan membawa missi untuk kembali ke Islam yang benar, kembali ke sistem Islam yang benar dalam bernegara dan berbangsa ini. Jadilah, negara yang kita cintai ini menjadi negara Islam seperti diingkan Taliban.

Nalar yang sehat ini sulit untuk menerima skenario yang didengugkan tersebut. Jauh api dari panggang, jauh keinginan dari kenyataan. Skenario yang selalu dikumandangkan dalam rangka menstigmatisasi satu kelompok Islam tersebut tidak akan pernah terjadi. Minimal tidak pernah ada preseden.

Justru sekarang kita menyaksikan bersama bahwa kerusakan di insitusi negara itu tidak dilakukan oleh orang-orang yang diidentifikasi sebagai Taliban, tetapi oleh kita sendiri yang bermental pecundang, yaitu mental yang ingin menang sendiri (ego sentris) tanpa memperdulikan orang lain, tanpa memperdulikan aturan, tanpa memperdulikan nurani, tanpa memperdulikan norma, tanpa memperdulikan karma

Irjen Ferdy Sambo, Kadiv Propam POLRI, adalah contoh dengan mentalitas tersebut. "Satu saja buah apple itu busuk, maka akan membuat busuk apple yang lain dalam satu keranjang." Satu kebusukan seorang polisi Sambo membuat busuk 31 anggota polisi lainnya. 

Ternyata satu buah apple busuk yang membuat sekeranjang apple lainya busuk itu bukan disebabkan oleh issue "Taliban" tetapi busuknya mentalitas pejabat oleh karena ambisi ego sentris untuk menang sendiri.

Popular posts from this blog

Apa yang salah dari Anies?

 Selang sehari setelah HUT Golkar ke-58 pada 21 Oktober 2022, momen dimana Surya Paloh tidak nyaman ketika Jokowi menyebut jangan sembrono mengajukan capres, Paloh mengumpulkan sejumlah guru besar di Nasdem Tower. Paloh merasa tidak ada yang salah dari pencpresan Anies. Apalagi Anies adalah berada di dalam pemerintahan, pernah menjadi gubernur yang artinya paham dengan birokrasi pemerintahan. Masih menurut Paloh, Anies juga bukan antek luar negeri. Dulu Paloh mencalonkan Ahok dan sekarang mencalonkan Anies. Itu semua dilakukan dalam rangka mempersatukan anak bangsa dari berbagai latar belakang etnis dan agama. Hingga Paloh menyebut hanya orang yang tidak suka saja yang mengatakan pencpresan Anies salah.  Anies itu rasis! Dia dengan sengaja menggunakan issu agama untuk memenangkan Pilkada DKI 2017. Issu agama yang menyerang Ahok sebagai orang Kristen ini memang bukan dia yang menciptkannya. Tetapi dia merestuinya karena mendapatkan keuntungan. Mestinya kala itu Anies paling tid...

Kritis

Kritis itu kira2 model berfikir yang berdasarkan nalar (logical) dan realita (empirical) untuk menghasilkan pemikiran yang mandiri (independent), mencerahkan (enlightening) dan membebaskan (liberating). Disebut nalar (logical) karena masuk akal. Hal2 yang dipikirkan itu ada hubungan sebab akibat yang runut/tertib (systematic). Disebut realita (empirical) karena hal2 yang masuk akal itu nyata terbukti terjadi. Jadi tidak mengada-ada. Semua bisa dibuktikan. Jadi ada data valid dari lapangan. Disebut mandiri (independent) karena tidak terpengaruh oleh pikiran lain. Maksudnya, kekuatan nalar logika yang berdasar pada realita di lapangan itu kalau digunakan dengan sungguh-sungguh akan membuahkan pemikiran yang mandiri. Disebut mencerahkan (enlightening) karena hasil pemikirannya memberikan penerangan kepada sekelilingnya. Hasil pemikiriannya tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang2 yang ada disekelilingnya. Disebut membebaskan (liberating) karena hasil pemikirannya bisa membe...