Skip to main content

Mentalitas Pecundang Merusak Negara

 "A rotten apple spoils the barrel." 

Kau selalu dengungkan bahwa "Taliban" telah masuk institusi negara ini, tidak terkecuali POLRI. Kau kumandangkan bahwa Taliban ini akan merusak tatanan negara dan mengubahnya ke tatanan yang diinginkan oleh Taliban. Cara merusaknya adalah dimulai dengan membuat satu keonaran ke keonaran lainnya. Keonaran yang tidak ada ujung penyelesaiannya ini lalu akan ditumpangi oleh Taliban dengan membawa missi untuk kembali ke Islam yang benar, kembali ke sistem Islam yang benar dalam bernegara dan berbangsa ini. Jadilah, negara yang kita cintai ini menjadi negara Islam seperti diingkan Taliban.

Nalar yang sehat ini sulit untuk menerima skenario yang didengugkan tersebut. Jauh api dari panggang, jauh keinginan dari kenyataan. Skenario yang selalu dikumandangkan dalam rangka menstigmatisasi satu kelompok Islam tersebut tidak akan pernah terjadi. Minimal tidak pernah ada preseden.

Justru sekarang kita menyaksikan bersama bahwa kerusakan di insitusi negara itu tidak dilakukan oleh orang-orang yang diidentifikasi sebagai Taliban, tetapi oleh kita sendiri yang bermental pecundang, yaitu mental yang ingin menang sendiri (ego sentris) tanpa memperdulikan orang lain, tanpa memperdulikan aturan, tanpa memperdulikan nurani, tanpa memperdulikan norma, tanpa memperdulikan karma

Irjen Ferdy Sambo, Kadiv Propam POLRI, adalah contoh dengan mentalitas tersebut. "Satu saja buah apple itu busuk, maka akan membuat busuk apple yang lain dalam satu keranjang." Satu kebusukan seorang polisi Sambo membuat busuk 31 anggota polisi lainnya. 

Ternyata satu buah apple busuk yang membuat sekeranjang apple lainya busuk itu bukan disebabkan oleh issue "Taliban" tetapi busuknya mentalitas pejabat oleh karena ambisi ego sentris untuk menang sendiri.

Popular posts from this blog

Kalah nyolot

 Setelah penetapan KPU pada 20 Maret dengan perolehan suara Prabowo-Gibran 96,214,691 (58.59%) sebagai pemenang dan paslon kalah berturut-turut adalah Anies-Muhaimin dengan perolehan suara 40,971,906 (24.95%) dan Ganjar-Mahfud 27,040,878 (16.47%), tidak membuat kubu yang kalah lerem . Padahal, mereka inilah yang menolak quick count dan menunggu real count KPU untuk mengetahui siapa sejatinya yang menang dan kalah. Ketika kalah, bukannya mereka menerima kekalahan, tetapi justru nyolot atau ngelunjak bahwa, menurutnya, mereka memang diskenariokan kalah dengan cara mengurangi perolehan suara yang mestinya mereka dapatkan.  Kita jadi disodori budaya nyolot, yang sejatinya bukan budaya kita, terutama Jawa. Orang Jawa terbiasa turun temurun dengan budaya sareh ketika ada masalah. Pertama, orang Jawa akan tenang menyikapi masalah sembari memikirkan ( menggalih ) solusi terbaik terhadap masalah tersebut. Kedua, o ra gedandapan artinya tidak kesana kemari apalagi hiruk pik...

ACT

 ACT itu secara institusi organisasi yang misinya sangat baik sangat mulia. Sangat gercep menyalurkan bantuan kemanusiaan on the spot saat bencana saat dibutuhkan saat itu pula, saat pihak lain kesusahan bahkan enggan untuk melakukannya mencapai lokasi menuju umat yang membutuhkan. Tidak hanya di negeri sendiri tetapi juga sampai ke negeri lain.  Kesalahan manajemen keuangan seperti uang sumbangan ditilep, gaji manajemen yang terlampau besar tidak wajar, atau menyalurkan dana ke kelompok teroris, ya supaya hukum yang bicara entah pidana atau perdata. Gak perlu lalu dikaitkan dengan organisasi kelompok dan tokoh Islam tertentu yang selama ini dianggap berseberangan. Bukannya nolongin sesama Muslim yang sedang kena musibah, tetapi malah mengolok-olok. Loh sampai kapan sesama Muslim kok seperti ini? Kalaupun gak bisa nolongin, mestinya cukuplah komentar supaya pihak aparat penegak hukum yang menanganinya. Bukan malah ngipas-ngipasi loh kok cabang ACT di kota ini belum ditutup. Bu...