Skip to main content

Mentalitas Pecundang Merusak Negara

 "A rotten apple spoils the barrel." 

Kau selalu dengungkan bahwa "Taliban" telah masuk institusi negara ini, tidak terkecuali POLRI. Kau kumandangkan bahwa Taliban ini akan merusak tatanan negara dan mengubahnya ke tatanan yang diinginkan oleh Taliban. Cara merusaknya adalah dimulai dengan membuat satu keonaran ke keonaran lainnya. Keonaran yang tidak ada ujung penyelesaiannya ini lalu akan ditumpangi oleh Taliban dengan membawa missi untuk kembali ke Islam yang benar, kembali ke sistem Islam yang benar dalam bernegara dan berbangsa ini. Jadilah, negara yang kita cintai ini menjadi negara Islam seperti diingkan Taliban.

Nalar yang sehat ini sulit untuk menerima skenario yang didengugkan tersebut. Jauh api dari panggang, jauh keinginan dari kenyataan. Skenario yang selalu dikumandangkan dalam rangka menstigmatisasi satu kelompok Islam tersebut tidak akan pernah terjadi. Minimal tidak pernah ada preseden.

Justru sekarang kita menyaksikan bersama bahwa kerusakan di insitusi negara itu tidak dilakukan oleh orang-orang yang diidentifikasi sebagai Taliban, tetapi oleh kita sendiri yang bermental pecundang, yaitu mental yang ingin menang sendiri (ego sentris) tanpa memperdulikan orang lain, tanpa memperdulikan aturan, tanpa memperdulikan nurani, tanpa memperdulikan norma, tanpa memperdulikan karma

Irjen Ferdy Sambo, Kadiv Propam POLRI, adalah contoh dengan mentalitas tersebut. "Satu saja buah apple itu busuk, maka akan membuat busuk apple yang lain dalam satu keranjang." Satu kebusukan seorang polisi Sambo membuat busuk 31 anggota polisi lainnya. 

Ternyata satu buah apple busuk yang membuat sekeranjang apple lainya busuk itu bukan disebabkan oleh issue "Taliban" tetapi busuknya mentalitas pejabat oleh karena ambisi ego sentris untuk menang sendiri.

Popular posts from this blog

Politik Kebangsaan

 Akademisi itu sering didengar ucapan dan diikuti tindakannya. Karena akademisi itu bisa dan terbiasa berpikir jernih, obyektif, berdasar fakta di lapangan dengan penalaran logis, disampaikan secara sistematis dan berdiri independen tanpa terpengaruh oleh kepentingan politik. Ketika berpolitik, akademisi itu jenis politiknya politik kebangsaan. Yaitu politik yang tidak terkotak oleh kepentingan partai atau golongan, tetapi kepentingan bangsa. Karenanya, akademisi itu akan santun setiap kali menghadapi masalah dengan mengorbankan kepentingan pribadi atau golongan ataupun partai, demi kepentingan umum apalagi kepentingan bangsa. Ketika paslon yang dipilihnya kalah, akademisi akan menyampaikan sikap untuk menerima kekalahan tanpa harus mencari-cari kesalahan pihak yang menang. Kira-kira mereka akan bersikap "Yaaah ... kita sudah berusaha untuk memilih dan memenangkan paslon kita. Nyatanya kalah quick count. Ya belum rezeqi. Kita terima saja kekalahan ini. Kita ucapkan selamat kepada ...

Matinya intelektualisme

 Hampir setiap gelaran pilpres usai, kita selalu disuguhi sekumpulan orang yang nampak pakar, selalu dihadirkan menjadi nara sumber dari TV ke TV yang komentarnya penuh dengan curiga bahwa pemilu ini penuh dengan kecurangan. Bahwa pemilu 2024 ini yang paling jelek dalam hal kecurangan. Kecurangan itu dilakukan oleh pihak yang berwenang dalam hal ini penyelenggara pemilu yaitu KPU, bahkan pengawas pemilu berupa Bawaslu, aparatur negara yang dikerahkan untuk memastikan paslon yang diinginkan menang, dan bahkan presiden sendiri dianggap selalu melakukan kecurangan dibalik blusukan dengan membagikan bansos. Para pseudo-intelektual tersebut juga banyak muncul di grup wassap dengan mensirkulasikan semacam pencerahan dan tidak jarang menforward potongan video (tidak utuh) terkait pemilu curang. Bahkan tidak jarang mereka mengomentari quick count yang dianggap sebagai sok metodologis. Dianggap sebagai penggiringan opini publik. Dianggap sebagai menyesatkan karena tidak sesuai dengan fakt...