Skip to main content

Irrational Rational

 Dalam banyak hal, presiden dikesankan tidak padu antara laku dan pikiran. Yang paling nyata dan mudah dingat adalah pencabutan PPKM pada 30 Desember 2022 yang tertuang dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri No 53 Tahun 2022 dan peniadaan buka bersama bagi pejabat negara yang tertuang dalam Surat Sekretaris Kabinet Republik Indonesia Nomor R 38/Seskab/DKK/03/2023 tertanggal 21 Maret 2023. Lalu ditindaklanjuti oleh Kementerian Dalam Negeri dengan menerbitkan Surat Edaran Nomor: 100.4.4/1768/SJ ke pemerintah daerah provinsi dan kabupaten. Bahkan Menpan RB dengan gagah berani memperluas larangan ini ke seluruah ASN dan tidak segan menjatuhkan sanksi karena ASN berkewajiban untuk melaksanakan kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat pemerintah yang berwenang, sesuai PP No. 94 Tahun 2021 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil. 

Kritik pun ramai dialamatkan ke presiden yang tidak padu antara laku dan pikiran. Ketika PPKM dicabut, anjuran tetap memakai masker di ruang tertutup itu diartikan sebagai perintah oleh mereka yang berwenang di tingkat satuan kerja/tugas. Satpam mall tidak segan melarang mereka yang tidak memakai masker masuk kedalam. Lah, gak padu kan antara pikiran dan laku. Pikiran dah mencabut PPKM, lah laku masih memaksa pakai masker. Anjuran presiden itu sering kali diterjemahkan sebagai perintah.

Kritik tentang larangan buka bersama pun sama. Lah presiden ngunduh mantu 12 Desember 2022, sebelum PPKM dicabut, dihadiri tidak kurang dari belasan ribu relawan dan 6000-an undangan. Tidak kurang dari 20,000-an manusia berkumpul. Konser Dewa 19 di JIS 6 Februari 2023 dihadiri 75,000-an penonton. Konser Blackpink 11-12 Maret 2023 di GBK dihadiri pula 70,000-an penonton. Ketiga event besar ini tidak dilarang! Kenapa mesti melarang buka bersama dengan alasan penanganan Covid-19 ketika ketiga event tersebut sukses diselenggarakan? Nah, lagi-lagi tidak padu antara pikiran dan laku presiden. 

Sebagai pembantu setia presiden, Menteri Agama pun berusaha mengalihkan issu utama pelarangan buka bersama dari penanganan Covid-19 ke issu hidup sederhana para pejabat negara. Pelarangan buka bersama diterjemahkan supaya tidak boros. Alokasi dana bisa dialihkan ke fakir miskin sebagai kelompok masyarakat yang sangat membutuhkan. Tidak salah! Baik. Tetapi alasan utama pelarangan itu sebagaimana poin nomor 1 surat Seskab adalah "Penanganan Covid-19 saat ini dalam transisi dari pandemi menuu endemi, sehingga masih diperlukan kehati-hatian." Nggak padu kan antara laku dan pikiran?

Nggak masalah kalau larangan ini hanya untuk pejabat negara. Ataupun diperluas hingga pejabat tingkat pemerintah daerah. Tetapi menjadi masalah ketika larangan ini diperluas untuk seluruh ASN.

Para menteri dan pembantu presiden lainnya pun kelimpungan memberikan reasoning pelarangan buka bersama ini. Sebagai pembantu, mereka harus satu kata dengan presiden sekalipun reasoningnya terkesan mengada-ada. Tidak jarang mereka terjerembab kedalam skema irrational rational. Artinya, mereka berusaha sekuat tenaga merasionalkan hal yang tidak rasional. Jelas larangan buka bersama yang alasannya adalah penanganan Covid-19 itu irrational (tidak rasional) ketika dibandingkan dengan suksesnya tiga event besar di atas. Tetapi sengaja dirasionalisasi dengan mengalihkan alasan pada hidup sederhana dan ASN harus mengikuti pimpinan. Irrational rational, isn't it?

Popular posts from this blog

Politik Kebangsaan

 Akademisi itu sering didengar ucapan dan diikuti tindakannya. Karena akademisi itu bisa dan terbiasa berpikir jernih, obyektif, berdasar fakta di lapangan dengan penalaran logis, disampaikan secara sistematis dan berdiri independen tanpa terpengaruh oleh kepentingan politik. Ketika berpolitik, akademisi itu jenis politiknya politik kebangsaan. Yaitu politik yang tidak terkotak oleh kepentingan partai atau golongan, tetapi kepentingan bangsa. Karenanya, akademisi itu akan santun setiap kali menghadapi masalah dengan mengorbankan kepentingan pribadi atau golongan ataupun partai, demi kepentingan umum apalagi kepentingan bangsa. Ketika paslon yang dipilihnya kalah, akademisi akan menyampaikan sikap untuk menerima kekalahan tanpa harus mencari-cari kesalahan pihak yang menang. Kira-kira mereka akan bersikap "Yaaah ... kita sudah berusaha untuk memilih dan memenangkan paslon kita. Nyatanya kalah quick count. Ya belum rezeqi. Kita terima saja kekalahan ini. Kita ucapkan selamat kepada ...

Matinya intelektualisme

 Hampir setiap gelaran pilpres usai, kita selalu disuguhi sekumpulan orang yang nampak pakar, selalu dihadirkan menjadi nara sumber dari TV ke TV yang komentarnya penuh dengan curiga bahwa pemilu ini penuh dengan kecurangan. Bahwa pemilu 2024 ini yang paling jelek dalam hal kecurangan. Kecurangan itu dilakukan oleh pihak yang berwenang dalam hal ini penyelenggara pemilu yaitu KPU, bahkan pengawas pemilu berupa Bawaslu, aparatur negara yang dikerahkan untuk memastikan paslon yang diinginkan menang, dan bahkan presiden sendiri dianggap selalu melakukan kecurangan dibalik blusukan dengan membagikan bansos. Para pseudo-intelektual tersebut juga banyak muncul di grup wassap dengan mensirkulasikan semacam pencerahan dan tidak jarang menforward potongan video (tidak utuh) terkait pemilu curang. Bahkan tidak jarang mereka mengomentari quick count yang dianggap sebagai sok metodologis. Dianggap sebagai penggiringan opini publik. Dianggap sebagai menyesatkan karena tidak sesuai dengan fakt...