Skip to main content

1 Syawwal 2024

 Tidak seperti kalender Masehi yang berdasarkan matahari, penentuan tanggal dalam kalender Islam berdasarkan bulan. Hitungan 1 bulan dalam kalender Islam bisa 29 atau 30 hari.

2.      Dua metode penentuan awal bulan, yaitu WUJUUDUL HILAAL (وجود الهلال) atau penampakan bulan dan RUKYATUL HILAAL (الهلال رؤية) atau penglihatan bulan.  Bagi penganut WUJUUDUL HILAAL (وجود الهلال), berapapun ketinggian bulan kalau sudah muncul maka besuk berarti sudah bulan baru. Walaupun ketinggian bulan tersebut belum bisa dilihat mata telanjang manusia di bumi. Sedangkan bagi RUKYATUL HILAAL (الهلال رؤية), mempersyaratkan ketinggian bulan minimal 2 derajat atau jarak bulan ke matahari 3 derajat supaya mata telanjang manusia di bumi bisa melihat bulan.

3.      Ketika matahari terbenam pada Selasa Legi 9 April, bulan muncul dengan ketinggian 6 derajat.

4.      Baik penganut WUJUUDUL HILAAL (وجود الهلال), berarti bulan sudah muncul. Dan bagi RUKYATUL HILAAL (الهلال رؤية), ketinggian bulan 6 derajat sudah lebih dari cukup mata telanjang manusia melihat bulan.

5.      Karenanya, baik penganut faham WUJUUDUL HILAAL (وجود الهلال) maupun RUKYATUL HILAAL (الهلال رؤية),  1 Syawwal berarti jatuh pada Rabu Pahing 10 April. Ingat, penganut WUJUUDUL HILAAL (وجود الهلال) mulai puasa Romadhan pada Senin Pahing 11 Maret. Berarti puasanya genap 30 hari. Sedangkan penganut RUKYATUL HILAAL (الهلال رؤية) mulai puasa pada Selasa Pon 12 Maret, berarti puasanya hanya 29 hari.  

6.      Di sini lah signifikansi tidak diperlukannya sidang Isbat penetapan 1 Syawwal. Karena pakai sidah isbat atau tidak, ketika matahari terbenam pada Selasa Legi 9 April, ketinggian bulan mencapai 6 derajat, itu sudah lebih dari cukup untuk mata telanjang manusia melihat bulan. Artinya, mata manusia tanpa bantuan teleskop pasti bisa melihat bulan. Karenanya, Idul Fithri jatuh pada Rabu Pahing 10 April adalah 1 Syawwal 1445H.

7.      Kepastian ilmu pengetahuan astronomi tidak diragukan lagi. Mampu memprediksi sepersekian detik perputaran bulan, matahari dan bumi untuk puluhan bahkan ratusan tahun yang akan datang. Apalagi memprediksi awal bulan.

Selamat hari raya Idul Fithri. Mohon maaf lahir da batin. 

Monggo share untuk menyebarkan pemahaman.

Popular posts from this blog

Kalah nyolot

 Setelah penetapan KPU pada 20 Maret dengan perolehan suara Prabowo-Gibran 96,214,691 (58.59%) sebagai pemenang dan paslon kalah berturut-turut adalah Anies-Muhaimin dengan perolehan suara 40,971,906 (24.95%) dan Ganjar-Mahfud 27,040,878 (16.47%), tidak membuat kubu yang kalah lerem . Padahal, mereka inilah yang menolak quick count dan menunggu real count KPU untuk mengetahui siapa sejatinya yang menang dan kalah. Ketika kalah, bukannya mereka menerima kekalahan, tetapi justru nyolot atau ngelunjak bahwa, menurutnya, mereka memang diskenariokan kalah dengan cara mengurangi perolehan suara yang mestinya mereka dapatkan.  Kita jadi disodori budaya nyolot, yang sejatinya bukan budaya kita, terutama Jawa. Orang Jawa terbiasa turun temurun dengan budaya sareh ketika ada masalah. Pertama, orang Jawa akan tenang menyikapi masalah sembari memikirkan ( menggalih ) solusi terbaik terhadap masalah tersebut. Kedua, o ra gedandapan artinya tidak kesana kemari apalagi hiruk pik...

Bener Ora Pener

Di Jawa ada kaidah BENER ORA PENER yang kira-kira artinya BENAR TETAPI TIDAK TEPAT. Maksudnya, tidak semua kebenaran itu tepat. Karena tidak tepat, kaidah berikutnya adalah BECIK KUWALIK yang artinya hal yang benar justru terbalik menjadi salah. Maka supaya yang benar tetap menjadi benar harus tepat cara menyampaikan kebenaran tersebut. Tidak justru kebalik bahwa hal yang benar itu menjadi salah hanya gara-gara tidak tepat menyampaikannya. Merasa dicurangi dalam proses pemilu, itu ranah BAWASLU untuk menyelesaikannya. Dicurangi kalau dibawa ke MK itu ranah selisih suara. Apakah selisih suara Anies (24.95%) dan Ganjar (16.47%) ke Prabowo (58.59%) itu bisa menggagalkan pemilu satu putaran? Target mereka adalah dua putaran. Kalau dijumlahkan suara Anies dan Ganjar itu 41.41%. Artinya, mereka akan mendalilkan bahwa telah ada kecurangan 9% yang berarti 14,780,473 (dari suara sah 164,227,475) suara atau setara 49,268 TPS. 9% suara yang ada di Prabowo ini harus dikembalikan ke mereka sehingga...