Skip to main content

1 Syawal

Bagi Muhammadiyah, Jum'at Pahing 21 April 2023 itu sudah tanggal 1 Syawal karena ketika matahari terbenam pada Kamis Legi 20 April 2023, HILAL sudah muncul di atas ufuk (1 derajat). Berapapun derajatnya HILAL tersebut asal sudah muncul di atas ufuk berarti sudah wujud (WUJUDUL HILAL). 

Bagi Nahdlotul Ulama', kemunculan HILAL pada Kamis Legi 20 April 2023 ketika matahari terbenam belum belum mencapai POSISI yang memungkinkan untuk dilihat mata manusia di bumi (IMKANUL RUKYAH) karena kemiringan HILAL belum mencapai 3 derajat. Maka bulan Romadhon harus digenapkan menjadi 30 hari. Berarti 1 Syawal jatuh pada hari Sabtu Pon 22 April 2023.


Kamu pilih Idul Fithri yang mana? Pilihlah 21 atau 22 April 2023 bukan karena fanatik ke Muhammadiyah atau Nahdlotul Ulama'. Tetapi karena kamu tau alasannya (reasoning) mengapa harus Idul Fithri pada 21 atau 22 April 2023. Ceto tur penak to!

Popular posts from this blog

Bener Ora Pener

Di Jawa ada kaidah BENER ORA PENER yang kira-kira artinya BENAR TETAPI TIDAK TEPAT. Maksudnya, tidak semua kebenaran itu tepat. Karena tidak tepat, kaidah berikutnya adalah BECIK KUWALIK yang artinya hal yang benar justru terbalik menjadi salah. Maka supaya yang benar tetap menjadi benar harus tepat cara menyampaikan kebenaran tersebut. Tidak justru kebalik bahwa hal yang benar itu menjadi salah hanya gara-gara tidak tepat menyampaikannya. Merasa dicurangi dalam proses pemilu, itu ranah BAWASLU untuk menyelesaikannya. Dicurangi kalau dibawa ke MK itu ranah selisih suara. Apakah selisih suara Anies (24.95%) dan Ganjar (16.47%) ke Prabowo (58.59%) itu bisa menggagalkan pemilu satu putaran? Target mereka adalah dua putaran. Kalau dijumlahkan suara Anies dan Ganjar itu 41.41%. Artinya, mereka akan mendalilkan bahwa telah ada kecurangan 9% yang berarti 14,780,473 (dari suara sah 164,227,475) suara atau setara 49,268 TPS. 9% suara yang ada di Prabowo ini harus dikembalikan ke mereka sehingga...

Culture is fluid

Budaya itu tidak tetap, TETAPI selalu cair, selalu berubah sesuai dengan ruang dan waktu, sesuai dengan tuntutan, tekanan dan pengaruh, sesuai dengan pengalaman anggotanya berinteraksi dengan budaya lain.  Jilbab yang pada periode 80-an adalah budaya impor dari Timur Tengah, sejak periode 2000-an telah menjadi budaya kita. Sekarang istri presiden, wakil presiden, para menteri, TNI, POLRI, Gubernur, Bupati bahkan istri dan anak kita telah memakainya. Periode 80-an perempuan memakai celana (apalagi celana jin) itu tidak lazim. Apalagi perempuan mekangkang ketika dibonceng motor. Lambat laun karena tuntutan, periode 2000-an menjadi lazim. Celana jin tentu saja tidak perlu dipertentangkan dengan rok apalagi jarik.  Anak-anak ada yang memanggil orang tuanya dengan sebutan abi/ummi, daddy/mommy tidak perlu dipertentangkan dengan bapak/ibu, ayah/bunda. Anak-anak yang memanggil onti (auntie) tidak perlu dipertentangkan dengan tante, bu lik.  Senin, Selasa, Rebo, Kemis, Jumat, Set...