Skip to main content

Posts

Gebyar politik ambyar prolifik

 Selama 1 minggu saya beserta rombongan MPI dan PIAUD UIN Sunan Kalijaga berkesempatan berkunjung di Singapore and Malaysia. Perjalanan dimulai tgl 7 Agustus dari YIA (Yogyakarta International Airport) dengan a budget flight murah meriah tepat tiba di Singapore.  Day 1: 7 Agustus Tiba di terminal 2 Changi, penampakan infra struktur bandara masih biasa, bisa dibilang masih standar seperti di bandara Cengkareng yang juga sudah punya skytrain, kereta angkut listrik mengantarkan penumpang antar terminal tanpa sopir. Oleh tour guide lalu diajak ke Jewel mall di terminal 1 yang ada air terjun indoor, yang diklaim sebagai air terjun indoor terbesar. Masih juga saya belum takjub karena pemandangan ini masih sama dengan yang saya lihat sebelumnya karena sudah beberapa kali muter-muter antar terminal di Changi sembari menunggu flight berikutnya. Selalu setiap perjalanan ke luar negeri saya sengaja mengambil rute stop over di Singapore. Ke North America, Russia, Middle East, Europe, dan ...

Pudarnya Dominasi Mayoritas

Suku Jawa mendominasi Indonesia tidak hanya dari jumlah penduduk, mobilitas atau sebaran penduduknya ke seluruh penjuru negeri, pendidikan tinggi, tetapi juga akses ke kekuasaan yang berimbas pada akses ke ekonomi dan kesehatan. Suku Jawa memang lebih maju dari suku lainnya. Maka dominasinya bisa dimaklumi walaupun di sana-sini dipertentangkan. Tidak ada dominasi yang selamanya, begitu menurut alam. Yang sekarang berkuasa, bisa jadi beberapa tahun berikutnya akan runtuh menjadi warga biasa. Yang mayoritas bisa menjadi minoritas, simpelnya seperti itu. Tidak terkecuali suku Jawa.  Contoh, banyak beasiswa ditawarkan yang paling lazim sekarang adalah LPDP. Saya yang suku Jawa dan anda pula, adakah yang mengalami bahwa anak-anak kita minder untuk mendaftar. Mereka minder karena pasti akan kalah bersaing dan ujung-ujungnya gak lolos. Minder itu perasaan merasa inferior, merasa low, merasa tidak fit, merasa pasti kalah dibandingkan dengan orang lain yang dirasa lebih superior, lebih high...

Perlunya Harmonisasi Demokrasi dan Budaya Lokal

Progress demokrasi Indonesia memang luar biasa liberalnya. Mampu menabrak bahkan melibas tatanan atau norma atau rambu-rambu tradisional, yang sebelumnya dianut, dipraktekan, dan dipedomani untuk bisa hidup harmonis.  Demokrasi, yang salah satu cirinya adalah penghargaan pada perbedaan, benar-benar telah berhasil memunculkan bahkan memamerkan kelompok-kelompok minoritas yang selama ini berbeda dengan kelompok mayoritas. Jika sebelumnya, kelompok minoritas ini tidak berani muncul apalagi memamerkan dan menyebarluaskan perbedaannya, saat ini kelompok minoritas ini sedang demam panggung bahwa perbedaan itu bukan hanya untuk dimunculkan, dipamerkan, dan disebarluarkan tetapi juga dirayakan (selebrasi). Pasangan GAY dan LESBI yang dahulu terkutuk di masyarakat dan karenanya mereka harus sembunyi, sekarang tidak hanya memamerkan kemesraannya di ruang-ruang publik, tetapi juga menyebarluaskannya. Genggaman tangan, pelukan, ciuman bahkan cumbuan pasangan sejenis ini sudah banyak mewarnai r...