Skip to main content

Etika tidak etik

Menuding biasanya menggunakan satu jari telunjuk. Tiga jari lainnya, i.e., kelingking, manis dan tengah, terlipat menuju arah orang yang menuding. Dalam bahasa Jawa, ini adalah SANEPO, simbol yang memiliki makna impisit dibalik tindakan fisik. Maknanya, sekali menuduh, orang yang menuduh itu gak taunya memiliki 3 tuduhan. Dalam prakteknya, satu kali tuduhan itu untuk menutupi tiga tuduhan yang dialamatkan kepadanya.

Paslon dan timnya 01 dan 03 selalu menuduh 02 tidak menjunjung etika dengan tetap kekeh melanjutkan pencalonan Gibran sebagai cawapres. Dalam kampanye terbuka, tertutup bahkan debat capres-cawapres, tak henti-hentinya 01 silih berganti dengan 03 menuduh bahkan memperolok 02 sebagai paslon yang tidak etis. Dalam SANEPO Jawa bisa jadi tuduhan tidak etis kepada 02 ini untuk menutupi permasalahan yang telah dilakukan oleh 01 dan 03 yang bisa disebut sebagai paslon yang tidak etis pula. 

Anis menjadi gubernur DKI atas jasa Prabowo. Ratusan miliar dan mobilisasi pemilih telah dilakukan Prabowo. Eeeee Anis dengan gagah beraninya tanpa tedeng aling-aling langsung menembak Prabowo sebagai tidak etis karena pencalonan Gibran yang masih dibawah umur. Nuduh proyek IKN sebagai proyek yang asal-asalan tanpa studi dan narasi yang layak bisa dipertanggungjawabkan. Nuduh presiden kok seperti petugas lapangan yang membagi-bagikan sembako. Presiden sebagai pemimpin tertinggi itu harus mempraktekan kepemimpinan efektif, yaitu pemimpin yang dengan instruksi jelas ke bawahan tanpa harus mengerjakan pekerjaan bawahan secara langsung. Dan tuduhan lainnya.

Tuduhan itu lalu backfire bahwa orang yang kebanyakan nuduh itu ternyata telah memiliki dan karenanya berusaha menutupi tuduhan minimal tiga kali lebih besar. Orang yang dituduh, lalu mendapatkan pahala 3 kali lebih besar dari orang yang menuduh. Rakyatlah yang lalu menghakimi. Bahwa suara Prabowo Gibran, 58%, hampir tiga kali lebih besar dari suara Anis, 25%. Uraian seperti ini kalau dalam science tidak disebut sebagai hubungan cause and effect, tetapi coincidence yang artinya kebetulan saja. Bisa jadi disebut sebagai tidak logis. Ya begitu lah, terkadang dalam hidup ini tidak semua bisa dinalar dengan lagis. Kenyataannya, kejadian kebetulan bahwa suara Prabowo hampir 3 kali lebih besar dari Anis adalah kenyataan hasil pilpres 14 Februari.

Bicara etika, tetapi dia sendiri tidak etis. Itu tuduhan yang selanjutnya backfire ke Anies. Lihat tuh surat di atas yang ditulis tangan olehnya. Etis gak seperti itu? Memberikan harapan palsu pada AHY. Selang beberapa berikutnya malah Muhaimin yang dijadikan cawapres. Etis? Konsisten dong kalau nuduh etis. Benar bahwa Prabowo bilang "Anda bukan orang yang bisa memberikan tuduhan etis kepada orang lain. Karena anda sendiri sering berperilaku tidak etis."

Dus, konsistensi etika itu tidak bisa dimiliki oleh manusia. Karena manusia itu ada bagian-bagian dari sikap dan perilakunya yang berasal dari syaitan. Dan tentu saja ada bagian lainnya yang berasal dari malaikat. The best we can do adalah untuk selalu berusaha menjunjung etika. Walau pada kenyataanya, sengaja atau tidak, kita terperosok dalam sikap dan perilaku yang tidak etis pula. Karenanya, jangan sok merasa paling suci untuk menyebut orang lain tidak menjunjung etika.

Popular posts from this blog

Welkem bek Bib!

 Welcome back Bib! Telah bebas bersyarat per hari ini. Selamat datang kembali di dunia nyata untuk tetap memberikan pencerahan kepada umat sekaligus kritis terhadap rejim.  Rejim sekarang ini tanpa ada oposisi kuat yang bisa mengimbangi apalagi mengkritisinya. Semua pada membeo apapun kehendak rejim. Kalaupun ada yang tidak, itu hanya minor saja. Di parlemen tinggal ada PKS (50/575 = 8.7%) dan Demokrat (54/575 = 9.4%). Apalah arti dari suara mereka minoritas hanya 18.1%. Di kehidupan nyata sosial dan masyarakat pun hampir tidak ada suara yang berani apalagi berhasil mengkritisi rejim. Demonstrasi BEM pun kalah nyaring dengan suara rejim. Bahkan selalu distigmatisasi ricuh. Tokoh nasional yang biasa kritis seperti Rocky Gerung, Refli Harun dan pemandu ILC Karni Ilyas pun terbenam dengan setiap kebijakan rejim. Bahkan distigmatisasi gak ada kontribusinya bagi bangsa karena pinter ngomong mulu' nol aksi.   Foto courtesy detik.com Saya pribadi tidak setuju dengan style dan to...

Politik Kebangsaan

 Akademisi itu sering didengar ucapan dan diikuti tindakannya. Karena akademisi itu bisa dan terbiasa berpikir jernih, obyektif, berdasar fakta di lapangan dengan penalaran logis, disampaikan secara sistematis dan berdiri independen tanpa terpengaruh oleh kepentingan politik. Ketika berpolitik, akademisi itu jenis politiknya politik kebangsaan. Yaitu politik yang tidak terkotak oleh kepentingan partai atau golongan, tetapi kepentingan bangsa. Karenanya, akademisi itu akan santun setiap kali menghadapi masalah dengan mengorbankan kepentingan pribadi atau golongan ataupun partai, demi kepentingan umum apalagi kepentingan bangsa. Ketika paslon yang dipilihnya kalah, akademisi akan menyampaikan sikap untuk menerima kekalahan tanpa harus mencari-cari kesalahan pihak yang menang. Kira-kira mereka akan bersikap "Yaaah ... kita sudah berusaha untuk memilih dan memenangkan paslon kita. Nyatanya kalah quick count. Ya belum rezeqi. Kita terima saja kekalahan ini. Kita ucapkan selamat kepada ...