Skip to main content

Bener Ora Pener

Di Jawa ada kaidah BENER ORA PENER yang kira-kira artinya BENAR TETAPI TIDAK TEPAT. Maksudnya, tidak semua kebenaran itu tepat. Karena tidak tepat, kaidah berikutnya adalah BECIK KUWALIK yang artinya hal yang benar justru terbalik menjadi salah. Maka supaya yang benar tetap menjadi benar harus tepat cara menyampaikan kebenaran tersebut. Tidak justru kebalik bahwa hal yang benar itu menjadi salah hanya gara-gara tidak tepat menyampaikannya.


Merasa dicurangi dalam proses pemilu, itu ranah BAWASLU untuk menyelesaikannya. Dicurangi kalau dibawa ke MK itu ranah selisih suara. Apakah selisih suara Anies (24.95%) dan Ganjar (16.47%) ke Prabowo (58.59%) itu bisa menggagalkan pemilu satu putaran? Target mereka adalah dua putaran. Kalau dijumlahkan suara Anies dan Ganjar itu 41.41%. Artinya, mereka akan mendalilkan bahwa telah ada kecurangan 9% yang berarti 14,780,473 (dari suara sah 164,227,475) suara atau setara 49,268 TPS. 9% suara yang ada di Prabowo ini harus dikembalikan ke mereka sehingga suara gabungan mereka menjadi 50.41%. Jika angka ini dikabulkan MK, maka pemilu akan menjadi 2 putaran yang sesuai jadwal akan terjadi pada 26 Juni 2024. 

Halah halah halaaaaah ... Bagaimana membuktikan mereka dicurangi 14,780,473 dari 49,268 TPS? Berapa ratus kontainer bukti akan mereka bawa ke MK? Bisa jadi MK tidak memiliki gudang yang cukup untuk memuat bukti mereka. Ngoyo woro! Mengada-ada kalau mereka bisa membuktikan suara sebanyak itu sehingga pemilu harus dilaksanakan sampai pada putaran kedua.

Sadar dirilah Njar Ganjar. Panjenengan piai Jawa yang tau persis makna dari BENER ORA PENER. Gak perlu ikutan dan terprovokasi orang Arab. Beda dengan orang Arab yang tidak memiliki filsafat Jawa. Orang Arab itu ketika ada masalah, pasti reaktif frontal langsung hajar. Di Jawa, seperti yang kamu tau dan alami Njar Ganjar, tidak seperti itu. Banyak hal bisa diselesaikan tanpa harus berdarah-darah, yaitu dengan cara rembugan santun. Tanpa harus mengumbar ke publik tentang permasalahan yang ada, tiba-tiba publik menyadari bahwa masalah telah selesai dengan solusi apik yang saling menguntungkan atau a win-win solution. Itu lah secuil kehidupan harmoni yang turun temurun dalam adab dan budaya Jawa.

Tidak perlu dengan dalih bahwa pemilu itu tidak hanya soal menang-kalah, tidak hanya soal jumlah suara, tetapi yang lebih penting adalah substansinya yaitu penyelenggaraan yang netral. Halah ndobos mu Nis Anies. Beda kalau suara kamu tidak kalah telak dengan Prabowo. Wis tah tak kandani wit sak iki, wirang mu bakal tambah nemen wirange karena kamu nanti akan kalah lagi di MK. 

Langkah membawa perselisihan suara ke MK adalah benar secara aturan. Tetapi tidak tepat dikarenakan kecurangan selisih suara yang dituduhkan itu terlalu besar yang mereka sendiri nanti di MK tidak bakal bisa membuktikannya. Akan harmoni kehidupan pasca pemilu ini jika mereka tidak jadi membawa perselisihan ke pengadilan. Mereka kalah itu fakta. Akan menjadi apik pemerintahan kedepan jika mereka yang kalah juga diakomodir untuk menjadi menteri dalam kabinet Prabowo. Hidup ini cari apa lagi kalau bukan harmoni.




Popular posts from this blog

Kalah nyolot

 Setelah penetapan KPU pada 20 Maret dengan perolehan suara Prabowo-Gibran 96,214,691 (58.59%) sebagai pemenang dan paslon kalah berturut-turut adalah Anies-Muhaimin dengan perolehan suara 40,971,906 (24.95%) dan Ganjar-Mahfud 27,040,878 (16.47%), tidak membuat kubu yang kalah lerem . Padahal, mereka inilah yang menolak quick count dan menunggu real count KPU untuk mengetahui siapa sejatinya yang menang dan kalah. Ketika kalah, bukannya mereka menerima kekalahan, tetapi justru nyolot atau ngelunjak bahwa, menurutnya, mereka memang diskenariokan kalah dengan cara mengurangi perolehan suara yang mestinya mereka dapatkan.  Kita jadi disodori budaya nyolot, yang sejatinya bukan budaya kita, terutama Jawa. Orang Jawa terbiasa turun temurun dengan budaya sareh ketika ada masalah. Pertama, orang Jawa akan tenang menyikapi masalah sembari memikirkan ( menggalih ) solusi terbaik terhadap masalah tersebut. Kedua, o ra gedandapan artinya tidak kesana kemari apalagi hiruk pik...

ACT

 ACT itu secara institusi organisasi yang misinya sangat baik sangat mulia. Sangat gercep menyalurkan bantuan kemanusiaan on the spot saat bencana saat dibutuhkan saat itu pula, saat pihak lain kesusahan bahkan enggan untuk melakukannya mencapai lokasi menuju umat yang membutuhkan. Tidak hanya di negeri sendiri tetapi juga sampai ke negeri lain.  Kesalahan manajemen keuangan seperti uang sumbangan ditilep, gaji manajemen yang terlampau besar tidak wajar, atau menyalurkan dana ke kelompok teroris, ya supaya hukum yang bicara entah pidana atau perdata. Gak perlu lalu dikaitkan dengan organisasi kelompok dan tokoh Islam tertentu yang selama ini dianggap berseberangan. Bukannya nolongin sesama Muslim yang sedang kena musibah, tetapi malah mengolok-olok. Loh sampai kapan sesama Muslim kok seperti ini? Kalaupun gak bisa nolongin, mestinya cukuplah komentar supaya pihak aparat penegak hukum yang menanganinya. Bukan malah ngipas-ngipasi loh kok cabang ACT di kota ini belum ditutup. Bu...