Skip to main content

ACT

 ACT itu secara institusi organisasi yang misinya sangat baik sangat mulia. Sangat gercep menyalurkan bantuan kemanusiaan on the spot saat bencana saat dibutuhkan saat itu pula, saat pihak lain kesusahan bahkan enggan untuk melakukannya mencapai lokasi menuju umat yang membutuhkan. Tidak hanya di negeri sendiri tetapi juga sampai ke negeri lain. 

Kesalahan manajemen keuangan seperti uang sumbangan ditilep, gaji manajemen yang terlampau besar tidak wajar, atau menyalurkan dana ke kelompok teroris, ya supaya hukum yang bicara entah pidana atau perdata. Gak perlu lalu dikaitkan dengan organisasi kelompok dan tokoh Islam tertentu yang selama ini dianggap berseberangan.

Bukannya nolongin sesama Muslim yang sedang kena musibah, tetapi malah mengolok-olok. Loh sampai kapan sesama Muslim kok seperti ini? Kalaupun gak bisa nolongin, mestinya cukuplah komentar supaya pihak aparat penegak hukum yang menanganinya. Bukan malah ngipas-ngipasi loh kok cabang ACT di kota ini belum ditutup. Bukannya malah ghibah membawa issue melebar kesana-kemari. 

Ini bangsa sedang terjangkiti social distrust, suspicious serba curiga, serba memojokkan, serba mengolok-olok, serba benci dan berujung pada hatred permusuhan. Dengan pemeluk agama lain menunjukkan sikap ramah, toleran, lenient dan permisif, dengan sesama Muslim dari kelompok lain menunjukkan wajah marah, garang, intoleran, dan keras. Islamic history repeated

ACT yang sedang dirundung masalah tetaplah sabar dan ikhlas (persistent) lebih-lebih di moment Idul Adha. Niscaya misi awal, care for humanity, bisa kembali tercapai.

Popular posts from this blog

Matinya Akademisi Karena Benci

 Sering kan dengar dari Ikrar Nusa Bhakti, profesor LIPI-sekarang-BRIN yang vocal bahkan nyinyir ke Jokowi itu? Dia selalu menyampaikan bahwa selama berkarir di luar negeri lebih dari 46 tahun, baru ada kasus di dunia ini ya Jokowi itu. Jokowi yang sebelumnya dicalonkan oleh partainya, PDIP, hingga menjadi wali kota, gubernur, dan presiden, belakangan melawan kehendak partainya. Kasus presiden melawan partai pengusungnya baru pertama kali terjadi di dunia ini, songgong si Ikrar. Heh heh heh heh … Dulu kita mengangguk saja mendengar pendapat songgong begini. Sekarang sudah banyak mesin AI (artifical intelligence) yang dalam sekian detik bisa memverifikasi pendapat songgong. Minimal ayo lah ke chatgpt.com. Ya, ada beberapa contoh presiden yang menjauhkan diri dari partai politik yang awalnya mendukung mereka. Hal ini biasanya terjadi ketika prioritas pemerintahan, perubahan ideologi, atau keyakinan pribadi mereka bertentangan dengan agenda partai mereka. Berikut ini beberapa cont...

Terlalu politik

"Emange kowe entuk opo jaman Pilpres 2019 melu gontok-gontokan antarane cebong karo kampret? Kowe entuk opo nganti terprovokasi Jokowi harga mati? mBasan Jokowi dadi presiden, njuk kowe dadi sugih? Njuk uripmu dadi mapan? Gudil!" Suatu hari pas bimbingan disertasi di tahun 2006, supervisor Michael Humphrey nyeletuk “I don’t know what happened with your country. Why people so immersed in politics in Indonesia? Hah! What do you think? Sempat berpikir beberapa detik, aku jawab “Would it be that life is not so good yet compared to let's say Australia?” Supervisor lalu menimpali “Correct! But you know what? They thought politics would answer all the problems but actually did not. Look! From 1998 up to now, life remains not good in there while politics dramatically changed.” Ini berbeda sekali dengan kehidupan di negara maju seperti Australia dimana masyarakat awam pun enggan bahkan "alergi" untuk membicarakan politik. It didn't benefit us, begitu kira-kira sangga...