Skip to main content

Stigmatisasi Wahabi-Salafi

Pernahkah anda menemukan pendapat seperti ini? "Ini berlaku untuk semua Warga WAG ini: Jika tidak setuju pada pernyataan bahwa Wahabi-Salafi adalah anti-NKRI, silahkan meninggalkan WAG tercinta ini." Dengan redaksi lain tetapi intinya sama pastinya ditemukan di banyak group WA lainnya.

Pendapat tersebut dangkal, gebyah uyah, simplifying the case, ungrounded, hasty conclusion dan karenanya terperangkap dalam logical fallacy. Menyamaratakan semua sub-varian Wahabi-Salafi menjadi tunggal.

Terinspirasi Ibn Taimiyah (1263-1328) untuk kembali pada masa keemasan Islam supaya terhindar dari bid’ah dan sekaligus menolak taqlid, Muhammad bin Wahab (1703-1792), penganut Hanbaliyah, mencetuskan gerakan reformasi untuk pemurnian tauhid Islam yang diberi nama Muwahhidun (الموحدون). Gerakan ini, yang lalu disebut sebagai Wahabi (الوهابية), menolak pemujaan berlebih pada orang suci (kalau di lingkungan kita disebut sebagai kyai, ustadz, ulama' dan atau wali) hinggal ziarah ke makam orang suci tersebut untuk menjadikan arwahnya sebagai perantara dalam berdoa memohon pertolongan Allah.

Baru pada awal abad ke-20, para reformist (pengikut Wahabi) dari Syria, Mesir dan belahan negara Islam lain menyebut gerakan mereka sebagai Salafi (السلف) sebagai usaha untuk mengadaptasi modernisasi yang dalam waktu bersamaan tetap mempertahakan konsep dan prinsip keislaman.

Kemunculan awal dan hingga adaptasi modernisasi, gerakan ini memiliki missi sangat mulia, bukan? Modernisasi yes, tetapi harus dalam bingkai konsep dan prinsip Islam. Ada yang salah di sini? Bukan kah kita pun harus seperti ini bahwa boleh moderen tetapi tidak menghilangkan prinsip Islam.

Nah, tentu saja muncul banyak varian dalam suatu gerakan, apapun dan dimanapun, karena semangat untuk perubahan dan perbaikan. Minimal ada 3 varian Wahabi-Salafi ini, yaitu purist, activist, dan jihadist.

Semua gerakan Wahabi-Salafi ingin mempraktekkan Islam sebagaimana pernah dipraktekkan masa Salaf Salih (السلف الصلح‎), yaitu masa Rosul dan Sahabat (sekitar 100 tahun), Tabi'in (sekitar 70-80 tahun) dan Tabi'it tabiin (sekitar 50 tahun). Ketiganya kira-kira berlangsung selama 220-240 tahun. (Rosul Muhammad lahir 570. Mendapatkan wahyu menjadi Rosul usia 40 tahun pada tahun 610. Maka masa Salaf Salih berlangsung hingga kira-kira sampai pada tahun 830 - 850 (610 + 220 s/d 240).

Purist fokus pada dakwah, purfikasi, dan pendidikan yang tidak menggunakan kekerasan. Mereka memandang politik sebagai pengalihan yang mendorong terjadinya penyimpangan. Sebaliknya, activist mengutamakan penerapan keyakinan salafi pada arena politik karena politik memberikan efek dramatis pada perubahan dan keadilan sosial serta sekaligus untuk menegaskan bahwa hanya Tuhan saja yang berhak mengatur (God alone to legislate). Jihadist mengambil posisi yang lebih militan dan berpendapat bahwa konteks saat ini diperlukan kekerasan dan revolusi. Ketiga faksi memiliki keyakinan yang sama tetapi menawarkan penjelasan yang berbeda terkait kompleksitas modernisasi dan masalah yang ditimbulkanya. Karenanya, ketiganya mengusulkan solusi yang berbeda pula dalam menghadapi modernisasi ini.

Foto courtesy detik.com
Dangkalnya pengetahuan mengarah pada penyederhanaan persoalan (simplifying the case), penyamarataan (lumping so many varians into single) atau meng-gebyah uyah masalah, dan sekaligus mengambil kesimpulan terlalu cepat (hasty conclusion). Itulah tanda-tanda terperangkap dalam logika yang salah (logical fallacy). Varian Wahabi-Salafi dalam wujud jihadist inilah yang bisa diidentifikasi sebagai ekstremis bahkan cenderung teroris. Jelas mereka ini berlawanan dengan prinsip NKRI. Wajar dan patut disebut sebagai gerakan anti-NKRI. Lah kalau activist yang terlibat aktif dalam politik, itu masih dalam tataran mengikut hukum positif negara sekaligus masih dalam tataran sistem perpolitikan nasional, apa iya mereka anti-NKRI? Apalagi yang varian purist, yang jelas-jelas tidak terjun ke politik dan semata-mata mengabdikan perjuangan untuk kesalehan individu dan sosial, dakwah dan pendidikan. Apa iya mereka ini anti-NKRI? Bolehlah, masih bisa diterima kalau activist yang condong menggunakan politik sebagai media dakwah ini dipaksakan diklasifikasi sebagai gerakan Wahabi-Salafi yang membahayakan NKRI, sebagaimana jihadist. Tetapi tidak pada purist!

Purist itu kira-kira contohnya kalau di negeri tercinta ini adalah dipraktekkan oleh anak dan menantu Pak Wiranto, Ketua Wantimpres. Benar-benar melakukan kesalehan Islam pada level individu untuk kemanfaatan sosial dalam hal dakwah Islam dan pendidikan tanpa terlibat dalam urusan politik apalagi politik praktis. Apakah mereka anti-NKRI? Hanya "sontoloyo" yang berpikir "saklek", "thek", dan sekaligus "pokok'e" yaitu mereka yang terdoktrin pola pikir dualistik intelijen antara NKRI vs anti-NKRI atau yang tidak cukup pengetahuan tentang Wahabi-Salafi yang tetap bersikukuh pada stigmatisasi semua Wahabi-Salafi adalah anti-NKRI. Padahal, jelas ada varian purist yang tetap NKRI dan diwaktu bersamaan mempraktekkan Islam seperti dilakukan masa Salaf Salih (السلف الصلح) dengan damai tanpa kekerasan sedikitpun. 

Eits ... Anda berani bilang anak dan menantu Pak Wiranto, cingkrang, jenggot, surban, dan cadar itu, anti-NKRI? Kalau gak, lah knapa masih men-stigmatisasi mereka, purist, sebagai anti-NKRI?





Popular posts from this blog

Apa yang salah dari Anies?

 Selang sehari setelah HUT Golkar ke-58 pada 21 Oktober 2022, momen dimana Surya Paloh tidak nyaman ketika Jokowi menyebut jangan sembrono mengajukan capres, Paloh mengumpulkan sejumlah guru besar di Nasdem Tower. Paloh merasa tidak ada yang salah dari pencpresan Anies. Apalagi Anies adalah berada di dalam pemerintahan, pernah menjadi gubernur yang artinya paham dengan birokrasi pemerintahan. Masih menurut Paloh, Anies juga bukan antek luar negeri. Dulu Paloh mencalonkan Ahok dan sekarang mencalonkan Anies. Itu semua dilakukan dalam rangka mempersatukan anak bangsa dari berbagai latar belakang etnis dan agama. Hingga Paloh menyebut hanya orang yang tidak suka saja yang mengatakan pencpresan Anies salah.  Anies itu rasis! Dia dengan sengaja menggunakan issu agama untuk memenangkan Pilkada DKI 2017. Issu agama yang menyerang Ahok sebagai orang Kristen ini memang bukan dia yang menciptkannya. Tetapi dia merestuinya karena mendapatkan keuntungan. Mestinya kala itu Anies paling tid...

Kritis

Kritis itu kira2 model berfikir yang berdasarkan nalar (logical) dan realita (empirical) untuk menghasilkan pemikiran yang mandiri (independent), mencerahkan (enlightening) dan membebaskan (liberating). Disebut nalar (logical) karena masuk akal. Hal2 yang dipikirkan itu ada hubungan sebab akibat yang runut/tertib (systematic). Disebut realita (empirical) karena hal2 yang masuk akal itu nyata terbukti terjadi. Jadi tidak mengada-ada. Semua bisa dibuktikan. Jadi ada data valid dari lapangan. Disebut mandiri (independent) karena tidak terpengaruh oleh pikiran lain. Maksudnya, kekuatan nalar logika yang berdasar pada realita di lapangan itu kalau digunakan dengan sungguh-sungguh akan membuahkan pemikiran yang mandiri. Disebut mencerahkan (enlightening) karena hasil pemikirannya memberikan penerangan kepada sekelilingnya. Hasil pemikiriannya tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang2 yang ada disekelilingnya. Disebut membebaskan (liberating) karena hasil pemikirannya bisa membe...