Skip to main content

Stigmatisasi Cadar Cingkrang Jenggot


Satu lagi stigma pada mereka yang mepraktekkan Cadar, Cingkrang, dan Jenggot. Bahwa mereka adalah anti-NKRI karena tidak berbudaya lokal Indonesia. Mereka yang berpendapat seperti ini berprilaku "saklek" bahkan "thek" dan asal "pokok'e". Mereka menganggap budaya itu fenomena tunggal yang berhenti (sudah mati), tidak pernah berubah oleh waktu dan ruang, dan karenanya tidak berkembang. Maka, untuk mengetahui apakah seseorang itu berbudaya Indonesia atau tidak, tak ubahnya seperti harus pergi ke museum (peninggalan purbakala budaya Indonesia) untuk melihat langsung dan sekaligus mencocokkan apakah seseorang itu berbudaya Indonesia atau tidak. Eh ternyata di museum itu tidak ada peninggalan berupa cadar, cingkrang dan jenggot, lalu kita ramai-ramai menghakimi bahwa cadar, cingkrang, dan jenggot itu bukan Indonesia. Inilah kesalahan awal persepsi tentang budaya.

Hallo "saklek" "thek" dan "pokok'e", tak kandani yo, budaya itu fluid/cair yang selalu berubah-ubah oleh tekanan atau pengaruh budaya lain, yang selalu berubah-ubah oleh karena interaksi anggotanya dengan budaya lain, yang selalu berubah-ubah oleh karena tuntutan waktu dan ruang dimana anggotanya berada. Disitulah lalu disebut ada istilah asimilasi dan akulturasi. 

Asimilasi itu peleburan dua budaya atau lebih yang menghasilkan budaya baru. Sedangkan, akulturasi itu percampuran kebudayaan tanpa menghilangkan budaya aslinya. Mbiyen jaman sekolah, buku'm mbok lempit nong sak iku opo. Mulakno lali opo sing mbok sinauni

Perempuan Muslim yang bercadar itu mempraktekan cara berpakaian Arab. Mereka menganut prinsip bahwa menutup aurat itu ya menutup semuanya kecuali kedua mata di wajah. Pakaiannya Arab tetapi tutur katanya masih berbahasa Indonesia. Prilakunya masih Indonesia. Sekolahnya masih Indonesia. Makannya masih makanan khas Indonesia yang harus makan nasi dari sarapan, makan siang dan makan malam. Rumahnya masih rumah Indonesia. Kuliahnya masih di kampus Indonesia. Saya berkali-kali memiliki mahasiswi bercadar. Mereka konsultasi dengan saya tanpa didampingi oleh muhrimnya. Mereka menghadiri kuliah bercampur dan berdampingan dengan teman-temannya. Mereka mengerjakan tugas dan berinteraksi dengang teman-temannya. Inilah yang disebut akulturasi, yaitu pertemuan budaya Arab dan Indonesia tanpa menghilangkan identitas budaya aslinya. Mereka masih Indonesia, kan?


Celana cingkrang, kenapa tidak? Mereka yang bercelana cingkrang berprinsip bahwa mereka bercelana menutup aurat sekaligus terhindar dari najis ketika bepergian dan memudahkan ketika berwudlu. Sama seperti cadar, mereka adalah Indonesia pula. Malahan, susah untuk mengecap bahwa celana cingkrang itu berasal dari Arab, karena di budaya asal Indonesia, khususnya Jawa, banyak dari kita dan saudara kita yang memakai celana 3/4 dikarenakan tuntutan profesi sebagai petani. Kalaupun dipaksakan bahwa cingkrang itu budaya Arab, maka yang terjadi adalah assimilasi, yaitu peleburan antara budaya Arab dan Indonesia.



Jenggot, why not! Walah-walah orang berjenggot kok dianggap tidak ber-Indonesia raya. Fenomena jenggot itu ada di semua budaya. Tidak khas atau karakteristik budaya tertentu. Banyak pemain NBA yang non-Muslim itu berjenggot. Banyak pemain sepak bola Liga Inggris, Spanyol, Itali, Perancis dan negara Eropa lainnya yang berjenggot. Di budaya kita pun banyak laki-laki yang memanjangkan jenggot tebalnya.


Nah, mungkin anda beranggapan bahwa mereka yang bercadar, bercelana cingkrang, dan berjenggot itu mempraktekkan Islam eksklusif hanya mau berinterkasi dengan kelompok sesamanya. Nah, lagi-lagi itu persepsi kita terhadap mereka. Yang saya alami justru berbeda, bahwa mereka juga berinteraksi dengan saya. Berarti masalahnya bukan pada cadar, cingkrang, dan jenggot tetapi bagaimana kita membangun interaksi bahkan kepada orang yang kita persepsikan berbeda sekalipun. 

Mungkin anda juga beranggapan bahwa kita ini harus kompak satu pakaian dan satu prilaku. Ya gak bisa karena anggota masyarakat kita itu mobilitasnya sekarang ini sudah begitu cepat dan pesat, berbeda dengan para pendahulu kita. Hari ini kita di Jakarta, 5 jam berikutnya sudah sampai Tokyo atau Hongkong atau Guangzhou  ke utara, atau Sydney ke selatan, Sri Langka atau Bangladesh bahkan India ke barat. Apalagi dengan internet yang konektifitas kita dengan mereka yang berbudaya beda terjadi saat itu pula. Mobilitas yang tinggi dan konektifitas berbasis internet yang bisa terjadi kapan saja ini disadari atau tidak telah menemukan dua atau lebih budaya berbeda yang memfasilitasi kita mempraktekkan asimilasi atau akulturasi budaya. Bahkan tidak sedikit dari kita yang berbudaya hybrid, budaya leburan sebagai budaya global yang tidak lagi bisa diidentifikasi sebagai budaya negara tertentu. Bukan lagi culture of the country but culture of the world. Bukan lagi citizen of the country, but citizen of the world.  

Masihkah kita lalu men-stigma, mengecap jelek bahkan aib, pada perempuan yang memakai cadar, dan pada laki-laki yang bercelana cingkrang dan berjenggot tebal? Apalagi cadar, cingkrang dan jenggot telah menjadi trend yang fasionable. Bukankah itu hak mereka masing-masing untuk mempraktekannya? Kenapa kita lalu memojokannya bahkan menjelekannya sebagai orang radikal yang anti-NKRI? Bukannya bersikap demikian menunjukkan bahwa justru ke-Indonesia-an kita dipertanyakan karena menganggap budaya Indonesia itu tunggal dan tidak berkembang.

Popular posts from this blog

Politik Kebangsaan

 Akademisi itu sering didengar ucapan dan diikuti tindakannya. Karena akademisi itu bisa dan terbiasa berpikir jernih, obyektif, berdasar fakta di lapangan dengan penalaran logis, disampaikan secara sistematis dan berdiri independen tanpa terpengaruh oleh kepentingan politik. Ketika berpolitik, akademisi itu jenis politiknya politik kebangsaan. Yaitu politik yang tidak terkotak oleh kepentingan partai atau golongan, tetapi kepentingan bangsa. Karenanya, akademisi itu akan santun setiap kali menghadapi masalah dengan mengorbankan kepentingan pribadi atau golongan ataupun partai, demi kepentingan umum apalagi kepentingan bangsa. Ketika paslon yang dipilihnya kalah, akademisi akan menyampaikan sikap untuk menerima kekalahan tanpa harus mencari-cari kesalahan pihak yang menang. Kira-kira mereka akan bersikap "Yaaah ... kita sudah berusaha untuk memilih dan memenangkan paslon kita. Nyatanya kalah quick count. Ya belum rezeqi. Kita terima saja kekalahan ini. Kita ucapkan selamat kepada ...

Matinya intelektualisme

 Hampir setiap gelaran pilpres usai, kita selalu disuguhi sekumpulan orang yang nampak pakar, selalu dihadirkan menjadi nara sumber dari TV ke TV yang komentarnya penuh dengan curiga bahwa pemilu ini penuh dengan kecurangan. Bahwa pemilu 2024 ini yang paling jelek dalam hal kecurangan. Kecurangan itu dilakukan oleh pihak yang berwenang dalam hal ini penyelenggara pemilu yaitu KPU, bahkan pengawas pemilu berupa Bawaslu, aparatur negara yang dikerahkan untuk memastikan paslon yang diinginkan menang, dan bahkan presiden sendiri dianggap selalu melakukan kecurangan dibalik blusukan dengan membagikan bansos. Para pseudo-intelektual tersebut juga banyak muncul di grup wassap dengan mensirkulasikan semacam pencerahan dan tidak jarang menforward potongan video (tidak utuh) terkait pemilu curang. Bahkan tidak jarang mereka mengomentari quick count yang dianggap sebagai sok metodologis. Dianggap sebagai penggiringan opini publik. Dianggap sebagai menyesatkan karena tidak sesuai dengan fakt...